KAJIAN
TERMAL AKIBAT PAPARAN PANAS DAN PERBAIKAN LINGKUNGAN KERJA
Dibuat oleh
: Listiani Nurul Huda dan Kristoffel Colbert Pandiangan
Jurnal
: Jurnal Teknik Industri, Vol 14, No.2, Desember 2012
Sumber
: Jurnal Teknik Industri Petra
Abstract: This study aims to analyze
thermal condition and improve working environment by designed ventilation
systems due to improve air circulation and reduce heat exposure occurred so
that workers feel more comfortable working. This study describes the thermal
conditions of work and its relation to psychological aspects operator traced
through thermal questionnaires. By knowing the conditions of the proposed
design is further improved ventilation system. The measurement results show
that the thermal average air temperature in the formulations room was 31.7 °C
and wind speed of 0.27 m/s. Heat Stress Index (HSI) in the workplace about
94.41%, which indicates the great potential of the dangers of heat stress. Wet
Bulb Globe Temperature (WBGT) index gained 27.64 °C so that the percentage of
working time and rest time workers was 6.55 and 1.55 hours, where the
percentage is not according to the standard. Productive work time workers only
achieved ranged from (76.58 ± 5.91)%, where the figure is still below the
standards of the company. Simulation with Computer Fluid Dynamic (CFD) software
shows actual workplace conditions are very hot and poorly ventilated. By
conducting some simulations improvement, then found a comfortable room conditions
and air circulation smoothly. Thermal comfort is finally concluded comfortable
room after Cv’s room obtained exceeds 0.34 m/s in accordance with the
Macfarlane theory’s.
Keywords: Thermal
comfort, ventilation systems, CFD, productive work time.
PENDAHULUAN
Kondisi termal tempat kerja
merupakan suatu kondisi lingkungan kerja yang dipengaruhi oleh beberapa aspek
lingkungan kerja fisik. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa temperature,
kelembaban relatif, pergerakan udara serta aspek personal seperti insulasi
pakaian dan jenis kegiatan. Kondisi termal dapat mengakibatkan kenyamanan dan
juga ketidaknyamanan dalam bekerja. Paparan panas akibat adanya temperature
yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan,
mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yang bersumber dari
sinar matahari yang memanasi atap pabrik yang kemudian menimbulkan radiasi
kedalam ruangan kerja produksi.
Menurut Prianto dan Depecker [12],
pada hunian di lingkungan beriklim tropis terutama dengan kelembaban tinggi,
kenyamanan lingkungan kerja tidak hanya tergantung pada banyaknya suplai udara
segar ke dalam ruangan, tetapi juga tergantung pada kecepatan angin. Hal ini
diperkuat oleh teori yang menyatakan bahwa kenyamanan termal dapat diprediksi
dengan menggunakan indeks keefektifan bukaan (dalam m/s) dengan memasukkan
temperatur kering dan kelembaban ke dalam persamaan Macfarlane. Teori ini juga
didukung oleh penelitian Liping dan Hien [9] yang mengatakan bahwa ada dua cara
dalam meningkatkan kenyamanan termal ruangan, yaitu meningkatkan kecepatan angin
dan menentukan posisi serta ukuran bukaan yang tepat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di
ruangan formulasi salah satu pabrik anti nyamuk di kota Medan, Sumatera Utara.
Waktu pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Juli 2012. Responden yang
digunakan sebagai objek penelitian adalah pekerja di ruangan formulasi. Data
yang diambil pada penelitian ini adalah data kondisi termal dan data psikologi
termal pekerja.
Metode audit termal yang digunakan
pada penelitian ini adalah Heat Stress Index (HSI) dan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) atau sering
pula disebut sebagai Indeks Suhu Bola Basah (ISBB). Metode HSI digunakan untuk
melihat besarnya indeks tekanan paparan panas yang dirasakan pekerja dalam
ruangan.
PROSEDUR
KAJIAN TERMAL
Audit termal dilakukan melalui
pengukuran langsung faktor-faktor lingkungan kerja fisik seperti temperatur
udara, temperatur basah, temperatur kering, temperatur globe, kelembaban dan
kecepatan angin. Pengukuran dilakukan pada 5 titik yang tersebar merata pada
ruangan formulasi. Tingkat gradien ketinggian pengukuran terdiri dari 5 titik
yaitu ketinggian 0,1m; 1,1m; 1,7m; 3m; 5m. Ketinggian 0,1 sampai 1,7m
berdasarkan standar pengukuran ASHRAE 55, sedangkan ketinggian 3 sampai 5m
digunakan untuk analisis penempatan ventilasi. Pengukuran dilakukan selama 5
hari kerja dari pukul 07.00 sampai 15.00 WIB (jam kerja aktif di ruangan
formulasi) dengan interval waktu pengukuran selama 120 menit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kenyamanan Termal
Berdasarkan hasil pengukuran selama
5 hari, maka diketahui bahwa temperatur udara paling tinggi berada pada 35,3oC,
temperatur udara paling rendah berada pada 27,80C, dan temperatur
udara rata-rata adalah 31,70C. Berdasarkan pengamatan, diketahui
bahwa pengaruh radiasi sinar matahari memiliki peranan paling besar dalam
meningkatkan paparan panas. Hasil pengujian korelasi juga menunjukkan bahwa
faktor yang paling mempengaruhi indeks tekanan paparan panas adalah temperatur globe,
kecepatan angin dan temperatur udara dengan nilai korelasi (r) sebesar
0,99875; -0,99536; 0,9531 secara berturut-turut. Hal ini diakibatkan ruangan
formulasi menggunakan atap yang terbuat dari seng dan tanpa mengunakan
langit-langit atau asbes, sehingga panas dari atap dengan cepat merambat.
Berdasarkan hasil pengumpulan data, diketahui bahwa temperatur udara pada
ketinggian 3 sampai 5m lebih tinggi dibandingkan temperatur udara pada
ketinggian 0,1 sampai 1,7m. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam
penentuan ketinggian bukaan ventilasi.
Pengukuran Waktu Kerja Produktif Dengan
Activity Sampling
Secara rata-rata dapat
diketahui bahwa waktu kerja produktif operator bagian formulasi adalah 76,58%
dengan penyimpangan maksimum sekitar 5,91%. Angka ini berada di bawah standar
yang ditetapkan oleh perusahaan yaitu 85%. Hal ini mengindikasikan perbaikan
sangat dibutuhkan dalam meningkatkan waktu kerja produktif operator formulasi
setidaknya dapat memenuhi angka 85%.
Berdasarkan pengamatan secara
langsung di lapangan juga menunjukkan bahwa banyaknya proporsi waktu idle operator
ini diakibatkan oleh banyaknya operator tidak tahan berada di ruangan formulasi
yang terpapar panas. Mereka mendinginkan temperatur tubuh dengan meninggalkan
ruangan formulasi dan masuk ke ruangan kantor staf produksi yang menggunakan AC.
Hal inilah yang menjadi alasan mereka ketika meninggalkan ruangan formulasi
untuk mengambil waktu istirahat.
ASPEK PERANCANGAN DAN PERBAIKAN
Salah satu perancangan yang
dibutuhkan dalam mengurangi panas di dalam ruangan adalah turbin ventilator.
Pemasangan turbin ventilator didukung oleh adanya bukaan inlet dan outlet pada
dinding bangunan. Bukaan ini ditempatkan pada ketinggian 4,75m dari lantai. Hal
tersebut dilakukan supaya udara yang terpapar panas dari ketinggian 3 sampai 5m
dapat disirkulasikan keluar ruangan.
Persyaratan kecepatan angin untuk
menyatakan kenyamanan termal pada bangunan sangat dipengaruhi oleh temperatur
internal dan kelembaban relatif (RH). Semakin tidak nyaman, kecepatan angin
yang dibutuhkan semakin tinggi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dari
pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa, hasil pengukuran
menunjukkan bahwa rata-rata temperatur udara adalah 31,7oC,
kecepatan angin 0,27m/s, kelembaban 68,21%, temperatur basah 26,18oC,
temperatur kering 30,45oC, dan temperatur globe 31,35oC.
Indeks paparan tekanan panas adalah 94,41% yang mengindikasikan bahwa ruangan
formulasi tersebut sudah akan membahayakan kesehatan pekerja. Perhitungan ISBB
menunjukkan bahwa persentase waktu istirahat seharusnya sekitar 1,45 jam
menjadi 1 jam. Waktu kerja produktif operator yang terpapar panas berkisar
antara (76,58±5,91)% dan tidak memenuhi standar perusahaan 85%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar