Senin, 15 Desember 2014

Deteksi Keausan Alat pada Proses Pengeboran Sumber Alam




Deteksi Keausan Alat pada Proses Pengeboran Sumber Alam


 Abstract: In this paper we applied change point detection methods for failures detection in the drilling process. We calculated the change points on three drilling parameters, i.e., the weight on bit, top drive torque and rate of penetration. Using the concept of reliability, we measured the time between change points as the time between failures. The minimum of mean time between change points from those three parameters is suggested to be the time for monitoring the drilling process.
Keywords: Change point detection, drilling, mean time between failures.

Pendahuluan

Dalam industri pengeboran minyak ataupun sum-ber daya alam yang lain, proses monitoring merupa-kan hal krusial yang harus dilakukan. Biaya yang sangat mahal dan teknologi kompleks yang berada pada industri ini membutuhkan proses monitoring yang handal sehingga deteksi keausan alat, seperti mata bor (bit) dapat diketahui sedini mungkin.
Berbagai metode telah dikembangkan untuk men-jawab tantangan di atas. Messaoud dan Weihs [9] menggunakan nonlinear time series untuk memoni-tor proses pengeboran. Secara umum Messaoud [8] meneliti tentang penggunaan statistical process con-trol dalam proses pengeboran. Theis [10] memodel-kan amplitude dari getaran yang ditimbulkan saat pengoboran dengan time series analysis dan stochastic differential equation.
Secara mekanikal monitoring proses pengeboran dapat dilakukakan dengan konsep Mechanical Spe-cific Energy. Pada konsep ini perbandingan antara input energy terhadap output energy pada saat pengeboran dimonitor (Dupriest dan Koederitz [2], Kumar [7]).
Pada makalah ini, monitoring pada proses pengebor-an dilakukan dengan pendekatan change point pada parameter-parameter yang diperhatikan pada proses pengeboran. Waktu untuk memonitor proses pengeboran ini ditentukan dengan menggunakan minimum mean time between change points dari parameter-parameter yang digunakan pada proses pengeboran. Mean time between change points ini dapat dianggap sebagai mean time between failures pada konsep keandalan.

Setelah mengevaluasi reservoir, selanjutnya taham mengembangkan reservoir. Yang pertama dilakukan adalah membangun sumur(well-construction)meliputi pemboran(drilling), memasang tubular sumur(casing) dan penyemenan(cementing). Lalu proses completion untuk membuat sumur siap digunakan. Proses ini meliputi perforasi yaitu perlobangan dinding sumur, pemasangan seluruh pipa-pipa dan katup produski beserta asesorisnya untuk mengalirkan minyak dan gas ke permukaan, pemasangan kepala sumur(well head) dipermukaan, pemasangan berbagai peralatan keselamatan, pemasangan pompa kalau diperlukan,dsb. Jika dibutuhkan metode stimulasi juga dilakukan dalam fase ini. Selanjutnya well-evaluation untuk mengevaluasi kondisi sumur dan formasi  didalam sumur. Teknik yang paling umum dinamakan logging yang dapat dilakukan pada saat sumur masih dibor ataupun sumurnya sudah jadi. Sumur - sumur perminyakan umumnya dikenal 3 macam, yaitu:
  1. Sumur eksplorasi(wildcat) adalah sumur yang dibor untuk menentukan apakah terdapat minyak atau gas disuatau tempat yang sama sekali baru.
  2. Sumur konfirmasi(confirmation well), sumur tersebut dibuat setelah sumur eksplorasi telah menemukan minyak dan gas. Biasanya sumur tersebut digunakan unutk memastikan apakah kandungan hidrokarbonnya cukup untuk dikembangkan.
  3. Sumur pengembangan(development-well) adalah sumur yang dibor di suatu lapangan minyak yang telah ada. Bertujuan untuk mengambil hidrokarbon semaksimal mungkin dari lapangan tersebut.
Metode Penelitian

Parameter Pengeboran
Terdapat banyak parameter yang harus diperhati-kan pada proses pengeboran (Gambar 1). Dalam makalah ini hanya akan dipilih tiga parameter saja yaitu Weight on Bit (WOB), Top Drive Torque (TDR) dan Rate of Penetration (ROP). Pada uji dependensi, ketiga parameter dapat digunakan untuk mewakili proses monitoring pada proses pengeboran. Tentu-nya hal ini masih dapat dikembangkan untuk pene-litian selanjutnya.
WOB merupakan jumlah gaya ke bawah yang ditempatkan pada bit(mata bor). TDR merupakan gaya balik (turning force) yang diterapkan pada poros atau mekanisme lain yang berputar ataupun cenderung berputar. Hal umum yang perlu diketahui adalah beban axial (lebih dikenal dengan WOB) dan torque merupakan parameter yang sangat penting pada proses pengeboran. Keduanya mempengaruhi arah dan kemiringan bor serta ekonomi dari proses pengeboran tersebut. TDR sangat dipengaruhi oleh rotation per minute (RPM) yang dipilih dan juga dipengaruhi oleh desain dari Bottom Hole Assembly (BHA).
ROP adalah kecepatan proses pengeboran yang dicatat per menit. Tujuan (Objective) dari strategi pengeboran adalah memaksimumkan ROP dan memaksimumkan lifetime dari mata bor (drilling bit).

Hasil dan Pembahasan

Beberapa masalah sering terjadi pada saat proses pengeboran, diantaranya adalah torque yang terlalu tinggi, problem pada pompa, bit mencapai dasar, problem pada hidrolik, dan sebagainya.
Tiga parameter yang akan diuji pada makalah ini dicatat setiap menit dan setiap masalah yang me-nyebabkan proses pengeboran berhenti juga dicatat pada data tersebut. Hal ini dimungkinkan karena pada proses pengeboran monitoring dilakukan seca-ra terus menerus.
Konsep yang digunakan dalam penentuan change point adalah dengan membandingkan rata-rata se-belum dan rata-rata setelah terjadinya change point. Hipotesa yang digunakan dalam penentuan posisi change point adalah sebagai berikut:
Ho: Rata-rata data sebelum dan setelah change point adalah sama
H1: Rata-rata data sebelum dan setelah change point adalah tidak sama
Hawkins-Deng [6] menggunakan konsep dari Mann-Whitney yang menggunakan T-statistik dari sudent-t statistik sebagai dasar penolakan atau penerimaan hipotesa. Change point ditentukan dengan mem-bandingkan T-statistik dengan limit ( ). Posisi change point dilihat dari nilai T-statistik yang paling dekat dengan nilai limit yang diperoleh dari tabel Hawkins-Deng [6]. Nilai limit ini dipengaruhi oleh tiga hal yaitu tingkat signifikansi, derajat kebebasan dan tipe pengujian (satu arah ataupun dua arah). Pada kasus pengeboran ini digunakan tingkat signifikan sebesar 1% ( ). Derajat kebebasan ditentukan berdasarkan jumlah warm up data yang digunakan. Pada kasus ini warm up data yang di-gunakan adalah 14 data, sehingga nilai derajat kebebasannya adalah 13. Jenis pengujian yang digu-nakan adalah pengujian dua arah. Berdasarkan tiga hal tersebut, nilai limit dalam proses pengeboran ini adalah 3.
Change point didapatkan dari simulasi yang dilaku-kan dengan menggunakan software R. Simulasi di-lakukan pada ketiga parameter yang ada, yaitu WOB, TDR, dan ROP dengan masing-masing meng-gunakan 1877 data, pada waktu tertentu data tersebut ditandai dengan catatan tentang kerusa-kan yang terjadi pada saat itu.
Pengujian dimulai dari data ke-15 (empat belas data digunakan sebagai warm-up). Pada blok data pertama ini (n = 15) dilakukan perhitungan T-Statistik pada persamaan (5), untuk k = 1,...,15. Nilai T-Statistik ini dibandingkan dengan limit yang telah ditentukan yaitu 3. Selanjutnya, nilai n di-tingkatkan satu persatu, dan pengujian T-Statistik dilakukan untuk nilai k yang bersesuaian. Peng-ujian ini dihentikan sebelum data kerusakan yang sesungguhnya terjadi, dan seluruh nilai change point yang terjadi pada periode tersebut dicatat. Tabel 1 memberikan gambaran tentang prosedur perhitungan T-statistik pada 1 periode kerusakan. Pada periode pertama ini kerusakan terjadi pada menit ke-172. Change point pertama yang terjadi pada WOB terdeteksi pada data ke-11 atau 161 menit sebelum kerusakan yang sebenarnya terjadi, sedangkan pada TDR adalah pada data ke-14 atau 158 menit sebelum kerusakan yang sebenarnya terjadi dan pada ROP adalah pada data ke-26 atau 146 menit sebelum kerusakan pertama terjadi.
Pada Tabel 1 terlihat bahwa WOB memberikan sinyal change point paling banyak bila dibandingkan dengan TDR dan ROP, WOB juga memberikan sinyal terdekat, yaitu 1 menit sebelum kerusakan terjadi. Proses perhitungan ini berulang untuk setiap periode kerusakan yang tercatat pada data.
Plot T-statistik terhadap indeks sinyal dan nilai limit untuk WOB, TDR dan ROP, masing-masing dapat dilihat pada Gambar 3 – Gambar 5. Pada Gambar 3 terlihat bahwa terdapat titik yang telah melebihi batas yang telah ditentukan. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi change point pada saat itu.
Simulasi untuk mencari titik change point ini dilakukan pada seluruh data yang ada dari ketiga parameter. Terdapat 75 titik change point pada data WOB, 47 titik change point pada data TDR, dan 80 titik change point pada data ROP. Data TDR memiliki titik change point yang lebih sedikit karena data pada parameter ini lebih halus dan tidak bergejolak dibandingkan dengan parameter yang lain.
Waktu untuk memonitor proses pengeboran ditentu-kan dengan memperhatikan selang waktu terjadi change point pada ketiga parameter yang diamati. Pada penelitian ini digunakan konsep mean time between failure (MTBF) untuk menentukan waktu tersebut. MTBF ini ditentukan berdasarkan distri-busi yang bersesuaian untuk masing-masing para-meter.
                                                                                                                                
Simpulan

Metode non-parametric change point dapat diguna-kan untuk mendeteksi lebih awal kerusakan atau keausan pada proses pengeboran. Informasi change point pada tiga parameter yang diamati, juga akan digunakan sebagai dasar penentuan selang waktu pemeriksanaan untuk mencegah terjadinya kerusa-kan pada proses pengeboran. Pada kasus ini proses pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah setiap 52 menit sekali.
Penelitian ini masih dapat dilanjutkan dengan mem-bangun model untuk mendeteksi kerusakan pada alat-alat pengeboran secara real time.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar